Oleh : Sandhi Zukhruf Zusiarta

Untitled

“Wanita itu misterius dan selamanya akan misterius.”

“Aku yang hari ini berbeda dengan aku yang kemarin atau aku yang besok.”

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan Raja semalam. Tahu darimana Dia. Mana mungkin gadis secantik Dia belum punya pasangan. Ah, mustahil. Andaikata dia belum punya pasangan pasti banyak juga laki-laki yang mengincarnya untuk jadi pasangan atau sekedar pamer di depan teman-teman mereka. Apalagi laki-laki playboy semacam Raja ini. Temanku yang satu ini memang paling getol kalau urusan menggaet perempuan. Tak terhitung sudah berapa perempuan yang dipacarinya.

Seperti biasa aku dan Raja berangkat kerja naik bis kota. Lagi-lagi aku bertemu dengan gadis cantik itu. Rambut panjang terurai, bibirnya merah merekah, pipinya yang kemerah – merahan ditambah wajahnya yang innocent itu. Ah sensual sekali. Surgawi seakan berada di hadapanku. Tak kalah dengan Angelina Jolie. Gumamku.

Aku masih bingung, setiap Aku satu bis dengan gadis itu Dia selalu duduk paling belakang, padahal kursi di depannya kosong. Dan anehnya, kalau kursi dibelakang penuh dia putuskan untuk berdiri, sedang kursi di depannya kosong. Aku dan Raja duduk disamping gadis itu. Raja persis duduk disampingnya. Sementara aku disamping Raja. Entah apa yang mereka bincangkan. Aku hanya mendengar kalau perempuan tadi menolak sesuatu.

 

“Maaf mas, saya tidak bisa keluar malam. Takut dimarahin”

 

Ah, masa bodoh. Aku malah merasa mual hari ini. Aku mencoba meminum sebotol air yang aku bawa tadi. Mencoba menetralisir rasa pengap dan bau di bis. Bis yang aku tumpangi jauh dari kesan bersih. Banyak penjual yang seenaknya meletakkan dagangannya di sembarang tempat. Terlebih ada salah seorang pedagang yang membaawa ayam yang masih hidup di dalam bis.

 

“Malik,kau mual ?” Tanya si Raja

“Ah, nggak kok Ja. Cuma rada haus.” Jawabku bohong

“Yaelah nggak usah bohong.”

“Terserah deh.”

 

Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan kami. Sebelum turun Aku sempat menoleh kearah perempuan tadi. Dia tersenyum kepadaku. Ah, indah sekali senyuman itu. Senyuman itu bagaikan kunang di malam hari, bagaikan angin di terik mentari. Oh sejuk dan mempesona sekali. Begitu kataku dalam hati. Sepertinya aku jatuh cinta pada perempuan ini.

 

“Malik, buruan !” bentak Raja membuyarkan lamunanku

“Oh, iya-iya.”

Di kantor, tiba-tiba aku kehilangan konsentrasi. Aku terbayang-bayang dengan gadis misterius tadi. Haruskah aku tanyakan ke Raja. Ah tidak-tidak. Aku harus mencari taunya sendiri. Aku kembali bekerja, kembali menatap setumpuk lembaran tugas yang harus Aku isi.

Keesokan harinya aku naik bis kota lagi. Kali ini Aku tak bersama Raja. Katanya, Dia sedang sakit. Ah, aku tak percaya. Palingan semalam Dia habis kelabing jadi kesiangan bangunnya.

Aku sangat beruntung kali ini, gadis cantik itu satu bis denganku lagi. Aku mencoba menghampiri jelmaan bidadari itu. Aku duduk disampingnya, menatap mata yang sayu itu. Mungkin kurang tidur saja. Ah, tapi matanya masih seperti mutiara. Tak ada cacat sedikitpun. Ini benar-benar bidadari. Gumamku.

 

“Kurang tidur ?” tanyaku memecah keheningan

“Oh, nggak kok. Mungkin kurang enak badan saja.” Jawabnya

“Mata indah kamu tak bisa bohong loh.”

“Hahaha, iya-iya mungkin kurang tidur juga.”

“Oh ya, kenalkan aku Malik.” Sambil mengulurkan tangan

“Hayati.” Jawabnya singkat

“Hayati, nama yang indah seperti orangnya.”

 

Dia benar-benar membuatku tak bisa apa-apa. Bicaranya sangat santun. Tutur katanya begitu halus, ditambah pribadinya yang ramah. Beda dari perkiraanku sebelumnya. Mungkin Aku menemukan satu dari jutaan bintang di langit yang jatuh di bumi. Sempurna. Begitu kataku dalam hati.

 

“Ehmmm, aku pikir kamu itu misterius dan sama dengan perkiraanku sebelumnya. Tapi ternyata salah ya.”

“Wanita itu memang misterius, kamu akan kesulitan memahami jalan pikir seorang wanita. Aku yang hari ini berbeda dengan aku yang kemarin atau aku yang besok.”

“Maksud kamu ?” Tanyaku keheranan.

“Kamu tidak akan pernah mengerti dan selamanya tidak akan mengerti tentang diriku. Aku bukanlah yang kamu lihat, yang kamu rasa.”

“Simpan ini.” Sambil menyerahkan sebuah gasingan kepadaku

“Itu bisa membantumu mengerti tentangku.”

 

Belum sempat aku balik bertanya. Dia sudah menghentikkan bis dan turun. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran wanita tadi.

Dirumah, aku yang penasaran dengan apa yang dikatakan wanita tadi mencoba menerka-nerka. Mungkin dia seorang anak yang egois. Mungkin saja. Atau dia memang misterius. Ah, bisa gila aku kalau seperti ini.

Besoknya aku tanyakan ke Dia. Untungnya pagi ini aku satu bis lagi dengannya. Dan sepertinya Raja benar-benar sakit.

 

“Hayati, aku sudah mengerti semuanya. Sudah mengerti apa itu wanita sudah mengerti siapa sebenarnya dirimu.”

“Kamu itu seorang yang egois, bukan ? Jadi, kamu hanya mau duduk di belakang. Dan aku tahu kamu menolak ajakan temanku pada saat itu.

“Kenapa kau bersikeras untuk mengerti siapa aku ?”

“Karena Aku jatuh cinta pada kau, Hayati !”

 

Mendengar perkataan tersebut dia hanya tersenyum dan diam. Dia seperti tertawa di hadapanku.

 

“Hayati.”

“Sudahkah kau coba mencari tahu siapa aku lewat gasingan yang aku berikan kemarin ?”Tanyanya.

“Belum.”Jawabku singkat.

“Kalau begitu cobalah.”

 

Aku benar-benar tak mengerti dengannya. Walaupun dia itu bintang, tapi kenapa dia membingungkanku dengan berbagai pertanyaan yang jawabannya sendiri aku tak tahu. Dia seperti memberiku pola rasi bintang yang aku sendiri buta dengan hal-hal yang berbau astronomi.

 

“Hayati Hayati. Begitu bodohnya aku di hadapanmu.”

 

Dirumah aku coba memainkan gasingan yang diberikan Hayati. Aku mainkan berkali-kali. Masih saja aku belum mengerti. Aku kehabisan akal. Aku rasa ini sia-sia. Aku mainkan gasingan itu lagi sampai-sampai gasingan itu pecah. Ah, masa bodoh.

“Tunggu-tunggu. Kalau gasingan itu pecah setelah aku mainkan dengar kasarnya. Berarti… Aku tahu Hayati aku tahu”

 

Sudah tiga hari ini Raja tidak berangkat. Aku kasihan dengannya. Aku bertemu lagi dengan Hayati. Dia hari ini begitu pucat. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

“Malik, sudah kau temukan jawabannya ?”

“Sudah Hayati. Kau benar. Wanita itu misterius. Wanita sulit di mengerti, mereka hanya ingin di mengerti dengan halus. Begitu juga kau Hayati. Kau memberikan gasingan itu agar aku memainkannya dengan lembut. Tapi ketika satu kali aku memainkannya dengan kasar gasingan itu pecah. Kau pintar Hayati kau jenius.”

Hayati hanya tersenyum mendengar penjelasanku tadi. Persis dengan senyuman pertamanya waktu itu. Ah wanita yang sempurna.

Keesokannya lagi aku bergegas berangkat kerja denga rapinya. Hari ini rencananya aku mau menyatakan cinta padanya secara penuh. Tapi, ternyata aku tak mendapatinya. Ah, mungkin dia sedang sakit. Gumamku.

Raja sudah sembuh dari sakitnya. Dia benar-benar sakit ternyata. Aku jadi tidak enak sudah mengiranya yang tidak-tidak. Tapi, hari ini aku tidak mendapati Hayati lagi. Kemana dia. Pikirku. Aku harap dia disini. Menjadi bintang di dalam bis ini.

Berhari-hari, berbulan-bulan aku tak melihatnya lagi. Bintang itupun mulai redup. Aku kehilangan rasi bintang yang telah aku pecahkan polanya. Dia Hayati, wanita yang misterius. Seorang wanita yang mengukir rasinya untukku. Aku benar-benar kehilangan.

Advertisements